20 Jun 2019

Vania Santoso: Berkreasi dengan Sampah Sak Semen

Cewek mungil kelahiran Surabaya ini nggak pernah menyangka ketertarikannya terhadap lingkungan akan membawanya menjadi salah satu anak muda yang sibuk banget, he he he. Yap, di usianya yang masih muda, Vania Santoso (23) menjadi duta lingkungan hidup mewakili Indonesia di dunia internasional. Bahkan sering kali menjadi pembicara di konferensi tingkat dunia. Semua berkat kepeduliannya terhadap lingkungan hidup.
 
                                 Vania Santoso (kiri), produk-produk Startic (kanan)

 
Sejak kapan, sih, tertarik dengan isu lingkungan?
Waktu kecil saya senang berkegiatan outdoor, main sepeda atau foto di ruang terbuka. Namun saat itu saya merasa lingkungan yang ada nggak membuat saya nyaman. Akhirnya saat berusia 12 tahun, bersama kakak saya, Agnes, kami membuat klub lingkungan bernama AV Peduli. Klub itu dibuat sebagai wadah atau komunitas lingkungan yang khusus memfasilitasi anak muda agar bisa berkontribusi ke lingkungan.

Apa yang Anda kerjakan dengan klub tersebut?
Kami banyak membuat fun activation untuk sosialisasi lingkungan, seperti bikin kaset lagu lingkungan, ecofashion show peragaan busana daur ulang. Ada juga sosialisasi peningkatan kesadaran masyarakat, aktivitas tanam pohon, revitalisasi sungai. Namun kegiatan yang utama adalah proyek sosial manajemen sampah inovatif yakni membuat bak sampah untuk didaur ulang.

Sampah seperti apa yang dikembangkan?
Kami mengolah segala sampah yang masuk ke bak sampah, termasuk kantong kresek, sampah kemasan dan sebagainya. Namun fokus utama kami adalah sampah yang sulit dikurangi produksinya. Dalam arti, sampah tersebut akan selalu ada. Karena itulah kami memilih sampah sak semen, mengingat pembangunan akan selalu ada. Sampah sak semen ini kami olah menjadi barang-barang yang memiliki nilai fungsi kembali, seperti tas, dompet, pakaian, sepatu.

Apa kendala terbesar dalam mengelola bisnis ini?
Kendala terbesar pada proses pemasaran. Produk dari sampah dianggap kurang menarik, terlalu kelihatan dari sampah sehingga orang merasa malu dan malas untuk membeli. Sangat sulit menarik konsumen untuk membeli produk kami.

Bagaimana antusias pasar lokal?
Jujur saja, kebanyakan masyarakat lokal masih memandang sebelah mata produk daur ulang sampah. Orientasi mereka masih kepada produk-produk branded.  Berbeda dengan masyarakat asing, mereka sudah jauh lebih konsisten dengan lingkungan dan sangat menghargai produk-produk daur ulang.

Ada strategi khusus menarik konsumen lokal?
Kami putar otak mencari cara agar produk ini bisa sampai ke tangan konsumen sehingga proyek sosial ini bisa menjadi sebuah sosial bisnis yang berkelanjutan. Akhirnya saya  mulai mengembangkan merek. Produk daur ulang saya dberi merek Startic Artistic Ecofashion. Melalui merek ini saya berharap orang bisa memiliki pride tersendiri saat mengenakannya. Untuk menambah daya tarik, kami juga kombinasikan dengan kain etnik seperti batik, songket, dan juga kulit agar masuk dengan pangsa pasar fashion saat ini. Harganya bermacam-macam, jika full sampah Rp 50.000-160.000 ribu. Kalau dengan kombinasi kain etnik bisa Rp 400 ribu – Rp 600 ribu.

Target Anda ke depan?
Saat ini kami sudah rutin melakukan ekspor ke Belanda, Australia, dan Singapura, tapi masih dalam skala kecil. Semoga ke depan produk Startic bisa lebih luas dan digemari masyarakat Indonesia.

Dian Probowati
Foto: Junarta Taufik