20 Jun 2019

Ratih Suryahutamy 'NEONOMORA' Menggali Kreativitas Musik Indie

Berusaha melupakan passion di musik justru membuat Ratih (27) merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Berkat dukungan orang terdekatnya, lulusan Edith Cowan University ini akhirnya memberanikan diri memilih aliran folk rock. Musiknya yang beda dan lirik kuat membuat Neonomora mendapat respons positif.


Bagaimana ceritanya masuk ke dunia musik?
Pulang dari Australia di tahun 2011, saya berusaha mencari kerja. Namun, hati saya selalu ingin ke musik. Ryan Novianto (sekarang suami Ratih—red) yang memotivasi saya. Dia bertanya, ‘What was your dream?’ Saya jawab, ‘My dream is to be a singer—bukan kerja kantoran.’
 
Ryan kemudian menyuruh saya mengejar mimpi itu. Dia membantu produksi musik dan segala macamnya hingga muncul single pertama saya You Are My Love pada tanggal 25 November 2012. Saya mengeluarkannya secara gratis lewat streaming services. Kaget banget karena dalam waktu tiga hari sudah ada 4.000-an pengunduh!
 
Apa ciri khas musik Anda?
Musik Neonomora seperti pop, tapi aransemennya lebih berantakan. Nggak sweet, deh. Lagu Neonomora juga mengangkat politik, misalnya Fight yang terinspirasi dari peristiwa Mei 1998. Di situ saya mengajak orang untuk berjuang mencapai kebebasan. Selain itu ada juga beberapa lagu yang personal dan bisa dijadikan penyemangat bagi anak muda untuk terus beraktivitas.
 
Apa yang membuat Anda memilih jalur independen?
Saya sudah mengalami nggak enaknya dipandang sebelah mata. Banyak yang bilang musik saya nggak ‘menjual’. Karena itu saya bikin Frisson Entertainment  untuk mengumpulkan anak-anak independen yang berpotensi, tapi nggak tahu bagaimana cara promo band mereka.
 
Bagaimana akhirnya Frisson Entertainment menelurkan band baru?
Dulu Frisson dibuat hanya untuk Neonomora. Banyak yang mengira kalau Frisson, tuh, label sehingga banyak orang kirim e-mail. Sampai ada satu e-mail bernada curhat yang intinya minta bantuan kami karena dia sudah bermusik cukup lama. It actually touches my heart dan itulah yang mengubah segalanya.
 
Akhirnya kami bikin Frisson untuk sesuatu yang lebih serius. Matter Halo jadi band pertama kami dan sekarang Frisson sudah punya sembilan band. Biasanya kami di manajemen melihat materinya dulu. Kami terbuka terhadap segala jenis musik—yang penting kualitas.
 
Target Anda selanjutnya?
Album kedua, sekarang lagi proses. Saya bukan tipe yang 'I wanna achieve something', tapi lebih ke bagaimana saya bisa berbuat sesuatu kepada orang-orang yang saya pedulikan. Nggak muluk-muluk, kok.
 
Alice Larasati
Foto:  Dachri M.S