20 Jun 2019

Adrian & Eugenie: Dua Anak Muda di Balik Kesuksesan Puyo Dessert

Pintar melihat celah berbisnis. Itulah yang membuat kakak-adik Adrian Christopher Agus dan Eugenie Patricia Agus sukses mengembangkan Puyo Dessert. Berawal dari Instagram, kini mereka telah memiliki 18 outlet di mal dengan total penjualan ribuan cup per harinya.



Bagaimana awal bisnis ini?
Adrian (A): Waktu itu bokap membuat puding dan tiba-tiba kami kepikiran untuk menjadikannya sebuah bisnis. Soalnya, saat itu kalau kita memikirkan puding, belum ada merek tertentu yang terbayang di kepala. Kami melihatnya sebagai peluang bisnis. Modal awal kami Rp 5 juta untuk membeli bahan-bahan dan lemari es.

Berawal dari Instagram?
Eugenie (E): Iya. Bulan Juli 2013. Kami sengaja memilih produk dengan warna-warna pastel yang lucu dan kemasan menarik agar terlihat fotogenik. Itu salah satu nilai jual kami. Dengan begitu, ketika orang membeli, mereka pun nggak akan ragu untuk memfoto dan memposting di Instagram mereka. Secara nggak langsung, kan, jadi mempromosikan Puyo. 

Lalu berlanjut ke bazar?
A: Dari awal, kami memang nggak mau hanya terjun ke bisnis online. Kami ingin mengembangkan ke bazar dan pada akhirnya punya outlet. Sayangnya, bazar pertama kami di event musik kampus gagal, he he he. Kami harus membawa pulang lagi 75% produk yang kami bawa karena nggak terjual. Itu jadi pelajaran juga bahwa kalau di acara musik, orang fokusnya memang nonton bukan jajan.

Sempat down?
A: Iya, tapi nggak lama. Kami lalu ikutan bazar kedua di sebuah mal dan ternyata laku banget. Dari situ kami sadar kalau memang harus masuk mal untuk mengembangkan bisnis Puyo. Ternyata memang hasilnya jauh lebih memuaskan dibanding hanya jualan lewat media sosial ataupun bazar. Kini kami sudah punya 18 outlet di beberapa mal di Jabodetabek. Rencananya, sih, ingin mengembangkan Puyo sampai ke kota-kota besar di Indonesia.



Apa keunggulan Puyo?
A: Pertama dari teksturnya. Meskipun bentuknya seperti puding, kami menyebutnya sebagai silky dessert karena teksturnya lebih lembut dari puding. Kedua, Puyo adalah brand lokal yang punya kelas internasional. Masih banyak yang menyangka Puyo adalah franchise dari luar negeri.

Punya pengalaman buruk selama berbisnis?
A: Kami pernah ditipu ketika ingin membuat cold storage. Sudah membayar Rp 80 juta, orangnya malah kabur. Kebetulan itu memang vendor yang baru kami pakai. 

Target pasar Puyo?
E: Awalnya memang anak muda. Tapi seiring berjalannya waktu, malah banyak orang tua dan anak kecil yang suka. Tampaknya memang Puyo bisa dinikmati semua kalangan dari berbagai usia.

Tip sukses sebagai entrepreneur?
E: Harus berani mencoba. Perencanaan matang memang harus ada, tapi jangan sampai malah menghambat kita untuk memulai. Kalaupun merugi, jangan sampai down terlalu lama. 

A: Untuk tahap awal, selain memanfaatkan media sosial, kita juga harus rajin ikut bazar. Selain bisa memperkenalkan produk yang kita jual, kita bisa sekalian melakukan tes pasar. Kita jadi tahu cara menangani customer dan produk yang mereka suka.

Fanny Indriawati
Foto: Shinta Meliza, Puyo